Sabtu, 21 April 2018

TANAMAN OBAT TRADISIONAL

Manfaat Daun Kelor

A. Istilah Daun Kelor


      Kelor atau dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera merupakan tumbuhan dari jenis suku Moringaceae. Daunnya berbentuk bulat lonjong dan ukurannya yang kecil tersusun rapi pada sebuah tangkainya. Daun kelor biasanya dimasak sebagai sayur. Selain itu, kelor juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit, salah satunya dengan mengolah daun kelor yang ada menjadi minuman teh.
Di balik daunnya yang kecil, kelor memilki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

B. Manfaat Teh Daun Kelor
  1. Membantu melancarkan pencernaan
  2. Membantu proses penurunan berat badan
  3. Memelihara kekebalan tubuh
  4. Menyembuhkan penyakit diabetes
  5. Mencegah penyakit kanker
  6. Menjaga kesehatan mata dan otak
  7. Menyembuhkan radang
  8. Meningkatkan metabolisme tubuh
  9. Mencegah hipertensi

C. Cara Pengolahan Daun Kelor Menjadi
     Teh
  • Petik daun kelor yang masih segar.
  • Jemur daun kelor yang sudah dipetik di bawah sinar matahari  hingga kering











  • Siapkan gelas, seduh daun kelor yang sudah kering dengan air hangat
  • Tunggu beberapa menit, hingga warnanya berubah menjadi cokelat bening seperti gambar dibawah ini








  • Saring dan tiriskan daun kelor kering yang telah diseduh tadi
  • Teh daun kelor siap untuk dinikmati

Sabtu, 17 Februari 2018

BELAJAR JURNAL KHUSUS DALAM AKUNTANSI


JURNAL KHUSUS
 
A. Pengertian Jurnal Khusus
Jurnal khusus merupakan ayat jurnal yang disusun untuk mencatat transaksi perusahaan yang meliputi pembelian, penjualan, penerimaan kas, dan pengeluaran kas. Transaksi tersebut terjadi secara rutin dan berulang selama satu periode akuntansi. Dengan adanya jurnal khusus maka pencatatan transaksi yang terjadi secara berulang-ulang akan lebih efisien.

B. Jenis-jenis Jurnal Khusus
Jurnal khusus merupakan salah satu jurnal yang sering digunakan dalam perusahaan dagang untuk mencatat transaksi yang sering terjadi. Terdapat 4 jenis Jurnal Khusus yaitu sebagai berikut :
1. Jurnal Pengeluaran Kas.
Jurnal pengeluaran kas adalah buku harian khusus untuk mencatat semua transaksi pembayaran tunai, baik berupa cek ataupun kas. Jurnal ini juga sering disebut buku kas keluar. Jurnal pengeluaran kas berfungsi untuk mencatat semua transaksi pengeluaran kas. Transaksi yang dicatat dalam jurnal penegluaran kas yaitu sebagai berikut :
a)      Pembelian secara tunai
b)      Pembayaran atau pelunasan utang dagang
c)      Pembayaran beban-beban
d)     Retur penjualan secara tunai
e)      Pengambilan uang tunai untuk pribadi
2. Jurnal Penerimaan Kas.
       Jurnal penerimaan kas adalah buku harian khusus untuk mencatat semua transaksi penerimaan tunai, baik cek maupun kas. Buku ini juga sering disebut buku kas masuk. Jurnal penerimaan kas berfungsi untuk mencatat semua transaksi penerimaan kas. Transaksi yang dicatat dalam jurnal penerimaan kas antara lain sebagai berikut :
a)      Penjualan tunai
b)      Penerimaan pelunasan piutang
c)      Penerimaan pendapatan (pendapatan bunga, deviden, sewa dan lain-lain)
d)     Retur pembelian secara tunai.
3. Jurnal Pembelian.
       Jurnal pembelian adalah buku harian khusus untuk mencatat transaksi-transaksi pembelian barang dagangan dan barang lainnya yang dilakukan secara kredit. Jurnal ini juga sering disebut sebagai buku pembelian. Jurnal pembelian berfungsi untuk mencatat semua transaksi pembelian barang yang dilakukan secara kredit. Selain itu, jurnal ini juga dapat digunakan untuk mencatat pembelian aktiva, perlengakapan maupun peralatan secara kredit.
4. Jurnal Penjualan.
       Jurnal penjualan adalah buku harian khusus untuk mencatat semua transaksi penjualan secara kredit. Jurnal penjualan berfungsi untuk mencatat transaksi penjualan barang dagangan atau jasa yang dilakukan dengan pembayaran kredit.
5. Jurnal Umum.
       Pada perusahaan dagang, kita juga mengenal adanya jurnal umum yang digunakan untuk mencatat semua transaksi yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu jurnal khusus yang ada. Transaksi yang dapat dicatat dalam jurnal umum antara lain sebagai berikut :
a)      Retur penjualan dan pengurangan harga
b)      Potongan penjualan
c)      Retur pembelian dan pengurangan harga
d)     Penyesuaian akhir tahun
e)      Penyesuaian kembali awal tahun
           
C. Manfaat Jurnal Khusus
Ada beberapa manfaat dari jurnal khusus yaitu sebagai berikut :
1. Memungkinkan adanya pembagian kerja
       Pada jurnal khusus pembagian pekerjaan bisa dilakukan dengan baik karena terdapat beberapa jurnal  yang sesuai dengan jenis transaksinya. Hal ini akan mendorong hasil yang baik karena adanya spesialisasi dalam penanganan suatu pekerjaan.
2. Memudahkan posting ke akun buku besar
       Dengan adanya jurnal khusus, pemostingan data ke buku besar dapat dilakukan secara berkala dengan lebih praktis dan mudah. Hal ini dimungkinkan terjadi karena dalam jurnal khusus memuat transaksi sejenis yang dibukukan dengan akun yang sama. Sehingga, pemostingan dapat dilakukan dengan lebih praktis.
3. Memungkinkan pengendalian internal yang lebih baik
      Pengendalian internal akan lebih baik dengan adanya spesialisasi kerja ini yaitu satu petugas menangani satu atau dua jurnal dibandingkan dengan satu petugas yang menangani keempat jurnal yang ada.
4. Menyajikan data keuangan lebih cepat dan jelas
      Jurnal khusus memuat transaksi keuangan yang sejenis. Dengan adanya jurnal khusus tersebut, terjadi pengelompokan data yang sejenis. Sehingga, data keuangan dapat disajikan lebih cepat dan jelas berdasarkan data pengelompokan yang ada.
5. Menghemat biaya operasional
       Dengan adanya jurnal khusus, maka pekerjaan akuntansi menjadi lebih efektif sehingga menjadikan penghematan dalam hal tenaga manusia (akuntan) maupun pemakaian kertas untuk pencatatan akuntansi. Dengan adanya penghematan tersebut, secara otomatis akan menhemat biaya operasional perusahaan sehingga perolehan laba perusahaan akan meningkat.
6. Memudahkan adanya pemeriksaan kembali secara berkala
       Dalam jurnal khusus, transaksi keuangan sejenis yang sering terjadi pada perusahaan dagang telah dibukukan secara praktis dan ringkas pada satu jurnal khusus terkait. Dengan demikian, akan memberikan kemudahan bagi auditor internal maupun eksternal untuk melakukan pemeriksaan kembali.
D. Ciri-ciri Jurnal Khusus
Ciri-ciri Jurnal Khusus yaitu sebagai berikut :
1.   Digunakan untuk mencatat transaksi sejenis dan sering terjadi
2.   Terdiri atas banyak lajur dan disesuaikan dengan kebutuhan
3.   Penulisan nama akun tidak dilakukan untuk setiap transaksi
4.   Pemindahbukuan dilakukan secara kolektif dan periodik
5.   Pencatatan dapat dilakukan oleh beberapa orang
6.   Posting dari jurnal ke buku besar dilakukan secara berkala

E. Perbedaan Jurnal Khusus dengan Jurnal Umum
1. Berdasarkan bentuknya
Jurnal umum terdiri dari 2 kolom (debit dan kredit) sedangkan jurnal khusus terdiri dari banyak kolom.
2. Berdasarkan fungsinya
Jurnal umum digunakan untuk mencatat semua transaksi, sedangkan jurnal khusus hanya digunakan untuk mencatat transaksi sejenis dan sering terjadi.
3. Berdasarkan posting
Dalam jurnal umum, posting dilakukan setiap terjadi transaksi, sedangkan dalam jurnal khusus posting dilakukan secara periodik dan biasanya dilakukan setiap akhir bulan.
4. Berdasakan tanggal posting yang dilakukan
Dalam jurnal umum, tanggal posting jurnal adalah tanggal transaksi, sedangkan dalam jurnal khusus, tanggal posting jurnal adalah tanggal akhir bulan, bulan yang bersangkutan.

Jumat, 26 Januari 2018

Perlawanan Rakyat Bali Melawan Kolonial Belanda



A. Sejarah Perlawanan Rakyat Bali 
Image result for perang puputan 
Pada abad ke-19 di Bali sudah berkembang kerajaan-kerajaan yang berdaulat. Misalnya Kerajaan Buleleng, Karangasem, Klungkung, Gianyar, Badung, Jembrana, Tabanan dan Bangli. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendles, mulai terjadi kontak dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Bali, tidak hanya dalam bidang perdagangan tetapi juga untuk menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di wilayah Bali. 


Keinginan Belanda untuk menguasai Bali dimulai sejak tahun 1841 dan seluruh raja di Bali dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang isinya agar raja di Bali mengakui dan tunduk kepada pemerintah Belanda. Sikap Belanda yang sewenang-wenang ini mendapat perlawanan dari rakyat Bali.



Keinginan Belanda untuk berkuasa di Bali selalu tidak berhasil karena Bali masih bersifat konservatif (masih berlaku adat atau tradisi), yaitu hak tawan karang yang dianggap oleh Belanda sangat merugikan. Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di Pantai Buleleng dan dikenakan Hukum Tawan Karang. Pihak Belanda menolak dan menunjukkan sikap tidak terpuji, yaitu selalu turut campur urusan kerajaan di Bali dengan mengajukan tuntutan yang  isinya sebagai berikut :

  • Membebaskan Belanda dari Hukum Tawan Karang.
  • Kerajaan Bali mengakui pemerintahan Hindia Belanda.
  • Kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintah Belanda.
  • Semua raja di Bali harus tunduk terhadap semua perintah kolonial Belanda.



Semua tuntutan yang diajukan pemerintah Belanda terhadap rakyat Bali ditolak sehingga pada tahun 1846, Belanda menyerang wilayah Bali Utara dan memaksa Raja Buleleng untuk menandatangani perjanjian perdamaian yang isinya antara lain sebagai berikut :

  • Dalam waktu 3 bulan, raja Buleleng harus menghancurkan semua benteng Buleleng yang pernah digunakan dan tidak boleh membangun benteng baru.
  • Raja Buleleng harus membayar ganti rugi dari biaya perang yang telah dikeluarkan Belanda sejumlah 75.000 golden
  • Raja harus menyerahkan Patih Gusti Ketut Jelantik kepada pemerintah Belanda
  • Belanda diizinkan menempatkan pasukannya di Buleleng



Tekanan dan paksaan Belanda itu mencoba ditandingi dengan tipu daya. Raja dan para pejuang berpura-pura menerima isi perjanjian yang telah ditetapkan oleh Belanda. Tetapi di balik itu semua, raja dan Patih Gusti Ketut Jelantik memperkuat pasukannya dengan membangun benteng pertahanan yang kuat di Jagaraga dan tetap mempertahankan Hak Tawan Karang. Pada tahun 1847, terdapat kapal-kapal asing yang terdampar di Klungkung. Kapal asing tersebut tetap dirampas oleh kerajaan. Hal itulah yang menimbulkan kemarahan di pihak Belanda, dan Belanda kemudian mengeluarkan ultimatum agar raja-raja di Buleleng, Klungkung, dan Karangasem mematuhi dan melaksanakan isi perjanjian yang telah ditandatangani.  
Pada tahun 1848, pos-pos pertahanan Belanda di Bali diserbu dan semua senjata dirampas oleh Patih Gusti Ketut  Jelantik. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan Belanda dan menuntut agar Gusti Ketut Jelantik diserahkan kepada Belanda. Namun, rakyat Bali tidak menghiraukan keinginan Belanda itu.

Melihat pasukan Bali yan terus memperkuat pertahanannya, Pasukan Belanda pun lebih gencar dalam menyerang wilayah-wilayah yang ada di Bali. Pada tanggal 7 dan 8 Juni 1848, telah mendarat bala bantuan Belanda di Pantai Sangsit. Kemudian pada tanggal 8 Juni 1848, pasukan Belanda kemudian menyerang benteng pertahanan Rakyat Bali di Jagaraga. Saat terjadi pertempuran tersebut, Rakyat Bali dibawah pimpinan Patih Gusti Ketut Jelantik dan bantuan dari istrinya, Jero Jempiring mampu mengembangkan pertahanan dengan gelar Supit Urang yang dimana wilayah pertahanannya dikelilingi oleh parit dan ranjau sehingga dapat menjebak pasukan Belanda. Pasukan Belanda pun terpaksa ditarik mundur.


Akibat kekalahannya tersebut, Pada April 1849, pasukan Belanda melakukan pembalasan dengan mendatangkan serdadu Belanda dari Batavia  dalam jumlah yang besar untuk kembali menyerang Jagaraga. Pada 15 April 1849, semua kekuatan Belanda telah dikerahkan untuk menyerang Jagaraga dan akhirnya Benteng Jagaraga runtuh ke tangan Belanda, yang menandakan lenyapnya kedaulatan rakyat Buleleng. Raja Buleleng diikuti oleh Patih Gusti Ketut Jelantik dan istrinya Jero Jempiring kemudian menyingkir ke Karangasem yang pada akhirnya dapat ditangkap dan dibunuh oleh Belanda. Dengan terbunuhnya Raja Buleleng maka Kerajaan Bali jatuh ke tangan Belanda disusul oleh kerajaan-kerajaan Bali lainnya. Meskipun hampir semua wilayah Bali sudah dikuasai oleh Belanda, namun semangat rakyat Bali tidak pudar. Pada tahun 1906, terjadi perlawanan habis-habisan (Perang Puputan) di Badung menyusul tahun 1908 terjadi Perang Puputan di Klungkung.
Bagi masyarakat Bali, Perang  Puputan dilakukan dengan prinsip sebagai berikut:

  • Nyawa seorang ksatria berada diujung senjata kematian di medan pertempuran merupakan kehormatan.
  • Dalam mempertahankan kehormatan bangsa dan negara maupun keluarga tidak dikenal istilah menyerah kepada musuh.
  • Menurut ajaran Hindu, orang yang mati dalam peperangan, rohnya akan masuk surga.
Tahun 1909, seluruh wilayah Bali akhirnya bisa dikuasai oleh Belanda 

B. Tokoh-Tokoh yang Terlibat Dalam Perlawanan Rakyat Bali
I Gusti Ketut Jelantik


Related image
I Gusti Ketut Jelantik (1846 - 1849) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849. Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin menghapuskan tawan karang yang berlaku di Bali, Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup aku tidak akan mengakui kekuasaan Belanda di negeri ini". Perang ini berakhir sebagai suatu puputan, seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. 







J.Van Swieten
Image result for SWIETEN





Pada bulan Maret 1848 ia diangkat sebagai kepala staf jenderal dalam Ekspedisi Bali II dan di bulan Juni 1849 ia diangkat sebagai komandan pasukan angkatan darat dalam Ekspedisi Bali III dan sebagai gubernemen komisaris untuk kepemimpinan dalam urusan politik di Bali.  



















Sekian dulu sejarah mengenai perlawanan rakyat Bali melawan kolonial Belanda. Semoga bermanfaat.. XOXO.... :)

TANAMAN OBAT TRADISIONAL

Manfaat Daun Kelor A. Istilah Daun Kelor       Kelor atau dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera merupakan tumbuhan dari jenis ...